Your Ad Here

5 Kemampuan Hebat Bayi

Jakarta - Jangan anggap remeh kemampuan seorang bayi.

Apakah Dia Tepat Untuk Anda?

Status lajang, bertemu dengan pria yang memunculkan chemistry dan punya "potensi".

Rujak Buleleng

Jakarta - Pengin mencicipi makanan khas Bali yang sedap? Mampirlah ke warung ini.

Kondisi Remaja Yang bikin Malu

Jakarta - Saat remaja tubuh mengalami berbagai macam perubahan baik secara fisik maupun hormonal.

Hidrasi Tak Harus dengan Air

akarta, Untuk mencegah dehidrasi, biasanya Anda disarankan untuk minum banyak air.

Sunday, March 10, 2019

Mandiri Jadikan Hidup Kaya Makna


Bekerja dan tinggal jauh dari keluarga bukanlah persoalan mudah untuk sebagian besar orang. Rasa rindu dan kesendirian menjadi beban pertimbangan utama ketika seseorang dihadapkan pada pilihan bekerja di luar kota atau negeri asal.

Namun, Anda jangan larut dalam rasa ragu. Pasalnya, merantau memiliki ragam manfaat untuk kehidupan, baik masa sekarang dan masa depan.

Berdasarkan studi Rice University yang berkolaborasi dengan Columbia University dan University of North Carolina, merantau memberikan pemahaman mengenai diri sendiri secara lebih jelas dan terarah.

Periset dari ketiga universitas yang berlokasi di Amerika Serikat itu menuliskan dalam laporan studi bahwa mereka yang memilih merantau memiliki rasa menghargai diri sendiri lebih baik daripada yang tidak.

Hasil studi tersebut disimpulkan oleh periset setelah melakukan penelitian terhadap 1.874 partisipan yang tengah menjalani program pendidikan master.

Seluruh partisipan terdiri dari orang yang merantau dan tidak merantau.

Orang-orang yang merantau, menurut studi, memiliki sikap toleransi yang sangat baik.

Selain itu, mereka juga lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup, lebih menghargai keberagaman budaya dan agama, serta mampu dalam memahami nilai-nilai kehidupan secara mendalam.

“Hidup merantau sekarang ini tak sesulit di masa lalu, kemajuan teknologi dan kemudahan akses komunikasi terhadap lintas budaya, menjadikan penelitian ini berjalan lebih mudah. Kami bisa melihat bagaimana mereka (orang yang hidup merantau) memengaruhi orang lain,” ujar penulis studi seperti dilansir Business Insider.

Peneliti menjelaskan, hasil studi menunjukkan bahwa hidup merantau memengaruhi struktur fundamental konsep diri sehingga menjadi lebih jelas, hitam dan putih.

Menemukan makna, baik dalam kehidupan dan pekerjaan, menurut studi, membangun loyalitas dan rasa bangga terhadap diri seseorang.

Komitmen yang tercipta tersebut membuat seseorang semakin betah bertahan di tempat mereka merantau, sehingga potensi untuk berkembang dan meningkatkan keterampilan pun semakin luas.

Selain itu, studi yang dipimpin oleh Adam Hajo ini memperlihatkan bahwa orang yang merantau memiliki kepuasan diri lebih tinggi, tingkat stres lebih rendah, peningkatan performa kerja, dan lebih jernih dalam mengidentifkasikan kekuatan diri sendiri.

Anda yang berminat untuk mengembangkan pengalaman pribadi dengan belajar, bekerja, atau berkarya di negeri orang, jangan ragu-ragu untuk melakukannya. Sebaliknya, lakukanlah persiapan matang, setidaknya terlebih dahulu memenuhi akomodasi, seperti, tempat tinggal, kendaraan, dan makanan.

Pasalnya, negara orang lain pasti sangatlah berbeda dengan negeri asal Anda, terutama untuk urusan biaya hidup dan gaya hidup yang berlaku umum.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Harvard Business Review mengungkapkan penjelasan serupa bahwa merantau memberikan manfaat baik pada kesehatan mental, pengelolaan stres yang baik, dan meningkatkan kinerja.

"Hidup di negara orang memengaruhi kejernihan berpikir dan lebih terbuka," jelas Hajo dan tim periset lainnya.

Temuannya ini memperlihatkan hasil yang konsisten dengan hasil survei yang diproduksi oleh HSBC yang mengungkapkan bahwa manfaat hidup merantau di usia muda menguatkan rasa percaya diri dan yakin dengan potensi diri.

Peneliti mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut juga terlihat pada orang-orang yang hobi berpergian dalam kurun waktu yang terbilang lama, lebih dari dua bulan, dan jauh dari rumah.

Sumber : Beritagar.id

Saturday, March 9, 2019

Selfie Berlebihan Dikategorikan Kelainan Mental


Tahun 2014, beredar kabar bahwa American Psychiatric Association menetapkan istilah “ selfitis” untuk mengacu pada kelainan mental berupa kegemaran mengambil dan posting selfie secara berlebihan. 

Kabar tersebut ternyata cuma hoax belaka. Namun, sekelompok peneliti dari Notthingham Trent University dan Thiagarajar School of Management di India rupanya penasaran. Mereka  ingin mengetahui apakah femomena ini benar-benar ada. 

Sebuah studi pun dilakukan dengan melibatkan responden 225 mahasiswa dari kedua kampus. Hasilnya? Tim peneliti mengklaim bahwa kelainan mental “selfitis” ternyata memang nyata dan bisa dikategorikan. 

“Kami nampaknya bisa mengkonfirmasikan keberadaan (selfitis) dan telah membuat ‘Skala Perilaku Selfitis’ pertama di dunia untuk mengevaluasi kondisi subyek,” tutur Dr. Mark Griffiths dari Departement Psikologi Nottingham Trent University. Sebagaimana dirangkum dari The Telegraph, Senin (1/1/2018), hasil studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Mental Health and Addiction itu membagi “Selfitis” ke dalam tiga tingkatan, tergantung keparahan. 

Pertama adalah “borderline Selfitis” di mana seseorang mengambil selfie setidaknya sebanyak tiga kali sehari, tapi tak mengunggahnya ke media sosial. 

Kedua, “Selfitis akut”, yakni menjepret selfie, juga setidaknya sebanyak tiga kali, kemudian mengunggahnya ke media sosial. 

Tahapan ketiga yang paling parah adalah “Selfitis kronis” di mana seseorang memiliki dorongan untuk terus-menerus menjepret selfie sepanjang waktu, lebih dari enam kali tiap hari. 

Tim peneliti menyusun 20 pernyataan yang mesti dijawab dengan “setuju” atau “tidak setuju” untuk mengukur tingkat keparahan “selfitis” responden. Contoh-contohnya seperti “Saya merasa lebih populer ketika posting selfie di media sosial” atau “Saat tidak mengambil selfie, saya merasa terasing dari grup”. 

Studi menyimpulkan bahwa, dari ke-225 responden, 34 persen memiliki “borderline Selfitis”, 40,5 persen “selfitis akut” dan 25.5 persen “selfitis kronis”. Responden berjenis kelamin pria cenderung lebih rawan menunjukkan selfitis daripada perempuan, yakni 57,5 persen berbanding 42, persen. 

“Kami harap akan ada riset lanjutan untuk menggali lebih jauh tentang bagaimana dan kenapa orang-orang mengidap perilaku obsesif ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk menolong orang-orang yang menderita paling parah,” sebut Dr. Janarthanan Balakrishnan dari departemen psikologi Nottongham Trent University. 

Namun tak semua pihak setuju dengan hasil studi di atas. Dr. Mark Salter, juru bicara The Royal College of Psychiatrists, misalnya, menyuarakan kritik dan mengatakan bahwa fenomena “selfitis” sebenarnya tidak ada dan tidak seharusnya ada. “Ada kecenderungan untuk melabeli serangkaian perilaku kompleks manusia dengan satu kata. Tapi ini berbahaya karena bisa membuat sesuatu menjadi nyata, padahal sebenarnya tidak,” kata Salter.


Sumber : kompas.com

Wednesday, March 6, 2019

Terlambat Menikah Justru Lebih Percaya Diri dan Bahagia


Jakarta - "Kapan menikah?" pertanyaan ini tidak jarang menjadi momok bagi mereka yang belum membina rumah tangga. Hal tersebut terasa semakin 'mengganggu' ketika usia telah matang hingga mapan secara finansial.

Jangan terburu-buru dan jangan gentar dengan hal-hal yang secara tidak langsung mendesak Anda. Fimela.com menulis menurut penelitian, menikah terlambat justru menjamin kebahagiaan pernikahan di masa mendatang.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Family Psychology dan dilakukan University of Alberta menemukan, mereka yang menikah di usia lebih tua atau lebih lambat dari teman-temannya ternyata mempunyai level kebahagiaan dan kepercayaan diri lebih tinggi dibanding mereka yang menikah muda.

Tak hanya itu, menikah di usia matang juga menunjukkan rendahnya risiko depresi dan cerai. Sang peneliti, Matt Johnson menyampaikan tujuannya adalah mengetahui usia ideal untuk menikah.

Ada pun partisipan pria rata-rata menikah di usia 28 tahun dan partisipan perempuan di usia 25 tahun. Survei dilakukan pada 405 orang Kanada yang lulus SMA dan usia paruh baya di 1984 yang menikah di usia muda dan usia tua untuk melihat seberapa bahagia dan tenang pernikahan berdasarkan usia saat pertama kali menikah.

Sementara di abad 21, usia pernikahan kian mundur karena banyak generasi masa kini harus menjalani pendidikan tinggi dan bekerja. Biasanya, mereka tidak terburu-buru membina rumah tangga sebelum benar-benar mapan.

Daripada terus dihantui kekhawatiran soal jodoh dan menikah, tidak ada salahnya untuk berfokus pada peningkatan kualitas diri. Selain itu, bagaimana membahagiakan dan memapankan diri. 

Sumber : Liputan6.com